Iklan Terbaru :
  • pasang iklan

Kota Jalur, Teluk Kuantan (Pacu Jalur)

Minggu, 18 Desember 2011
Saat saya menulis artikel ini, saya benar-benar merasa rindu terhadap kampung halaman saya. Dan karena kerinduan itu pula saya menulis artikel ini. Bagaimana tidak, sudah 4 bulan saya tidak pulang ke Teluk Kuantan, tepatnya di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Padahal saya sekarang berada dari jarak yang tidak begitu jauh dari sana, tepatnya saya sekarang berada di Pekanbaru, Riau sekitar 160 km dari Teluk Kuantan. Sungguh keterlaluan dengan jarak yang hanya 3 jam saja, saya tidak pulang selama 4 bulan. Saya memiliki alasan yang kuat, saya harus kuliah dan mencari sebanyak-banyaknya pengalaman. Apapun  akan saya lakukan demi masa depan.

Sekarang saya akan menjelaskan salah satu tradisi khas Teluk Kuantan yaitu Pacu Jalur. Kalau bisa saya jelaskan gambaran saat menjelang pacu jalur, mungkin kota Teluk Kuantan yang paling indah, bersih dan nyaman. Sehari menjelang Pacu Jalur diadakan, wisma, penginapan, dan hotel mulai dipenuhhi pengunjung. Pengunjung biasanya berasal kota-kota lain di Riau, tapi sobat semua jangan salah, tidak sedikit juga pengunjung yang berasal dari luar Riau, seperti Sumatera Barat, Jambi, dan tak tanggung-tanggung banyak juga turis mancanegara. Beberapa tahun yang lalu ada beberapa jalur yang diutus atas nama Malaysia dan Singapura. Namun, belakangan ini tampaknya mulai berkurang. Dikarenakan jadwal pelaksanaan acara yang tidak lagi sesuai jadwal. Jika menurut pendapat saya, hal itu juga diakibatkan pacu jalur belum terpublikasikan dengan baik. Langsung saja saya jelaskan bagaimana rincinya.

Sejarah Pacu Jalur
Di awal abad ke-17, jalur merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan Cerenti di hilir. Saat itu memang belum berkembang transportasi darat. Akibatnya jalur itu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta berfungsi untuk mengangkut sekitar 40 orang.

Kemudian muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri). Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut, namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu.

Baru pada 100 tahun kemudian, warga melihat sisi lain yang membuat keberadaan jalur itu menjadi semakin menarik, yakni dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antarjalur yang hingga saat ini dikenal dengan nama Pacu Jalur. Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di kampung- kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam.

Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya Pacu Jalur diadakan untuk memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu Pacu Jalur diadakan sekitar bulan Agustus.  Dapat digambarkan saat hari berlangsungnya Pacu Jalur, kota Jalur bagaikan lautan manusia. Terjadi kemacetan lalu lintas dimana-mana, dan masyarakat yang ada diperantauan akan terlihat lagi, mereka akan kembali hanya untuk menyaksikan acara ini. Biasanya jalur yang mengikuti perlombaan, bisa mencapai lebih dari 100.

Lihat foto-fotonya dibawah ini..!

Foto Festival Pacu Jalur



















Lihat videonya juga ya...!!!
Video Festival Pacu Jalur











Sobat blogger sudah liatkan?? Sorak sorai penonton dan suara percikan kembang api yang membuat suasana semakin meriah. Adakah sobat blogger yang berminat berkunjung ke kota kami...???

0 komentar:

Posting Komentar