Iklan Terbaru :
  • pasang iklan

MENYOAL BAHASA PROKEM

Jumat, 26 Juni 2009


“Ayo Mbetal!”, kata – kata ini dulu sangat akrab di telinga kami semasa masih sekolah. “Mbetal” yang merupakan akronim dari “Ngombe karo Nguntal” (minum dan makan) merupakan kata – kata yang di lingkungan kami merupakan kata – kata bahasa Jawa yang kasar. Tetapi ketika digabungkan menjadi satu kata, dan tak ada yang mengetahui makna dari kata itu selain kami, tidak ada yang mempersoalkan kata – kata itu meskipun kami berada diantara kerumunan orang – orang tua. Itulah bahasa prokem. Masih ada puluhan kata lain yang kami gunakan saat itu, dan hanya kami saja yang paham maksudnya.
Professor Harimurti Kridalaksana berkata: “Tidak apa – apa menggunakan bahasa prokem selama kita tahu kapan dan dimana kita menggunakannya. Siapa tahu suatu hari nanti kata – kata itu akan dicantumkan dalam kamus bahasa Indonesia”. Benarkah tidak apa – apa menggunakan bahasa prokem. Tidakkah bahasa prokem akan mengancam kemurnia bahasa Indonesia.
Saat ini, bahasa – bahasa prokem sudah sangat tersebar luas karena dipopulerkan oleh media – media masa. Selebritis kita seringkali menggunakan bahasa – bahasa itu, ditayangkan oleh televisi dan diikuti oleh jutaan pemirsanya di seluruh nusantara. Lebih – lebih kalau politisi dan pejabat kita lalu ikut – ikutan menggunakan bahasa prokem itu. Tidakkah itu akan mengancam bahasa Indonesia yang formal? Tentu saja.
Maka? Seperti yang dikatakan oleh professor Harimurti, kita harus tahu kapan dan dimana menggunakannya.

0 komentar:

Posting Komentar