seperti biasa yang saya share kali ini seputar kumpulan cerita terbaru, Cerpen , dll . inilah cerita yang berjudul Penghuni Rumah Kosong dari garing outsider
PENGHUNI RUMAH KOSONG
Pagi ini aku pulang sekolah dengan lesu, wajahku pucat pasi. Semua ini salah
orang itu, pikirku sambil terus berjalan menuju rumah yang tak jauh lagi.
Sesampainya dirumah aku langsung masuk kekamarku dan menyalakan kipas dan
laptopku. Aku memandang layar laptopku dengan mata terpincing, seketika
kegairahan yang hilang kini kembali lagi. Aku menerima email dari salah satu
anggota detektif swasta yang menjadikan aku agennya.
"Kepada Irfan pesan ini ditujukan."
"Agen Irfan, langsung saja ke pokok masalah. Kami sedang mendapat
sebuah kasus yang lumayan aneh dan juga berbau mistis, kami memberitahu anda,
karena kami tahu andalah satu-satunya agen kami yang paling senang dalam kasus
seperti ini. Karena itu saya harap kedatangan anda besok pukul sebilan di
kantor kita untuk mendikusikannya. Mohon kedatangannya." begitulah bunyi
email yang baru ku baca ini.
Aku merebahkan diriku ke kasurku lalu memandang ke atap yang nampak banyak
sekali jari laba-laba diatas sana. Aku terdiam sejenak sambil melupakan
kejengkelan dikelas tadi. Aku merenung, mengingat-ngingat hal-hal yang nampak
menakutkan bagiku. Tapi aku mencoba menghapusnya dari ingatanku.
Akhirnya waktu yang ku tugu-tugu telah tiba, tepat jam sembilan aku meninggalkan
semua mata pelajaran di kelasku. Hal itu menyebabkanku mendapat semprotan dari
beberapa guru yang marah karena tingkah laku-ku ini. Dengan semangat aku menuju
kantor kami dengan menaiki bus yang sejalur.
Sesampainya di halte, aku turun lalu berjalan menyusuri trotoar. Aku
berhenti didepan pintu coklat kehitaman yang mana itulah kantor kami. Aku masuk
dengan wajah agak pucat karena takut kena marah, tapi dugaanku berbeda dengan
keadaan diruangan itu. Mereka memandangku sambil tersenyum dan menyuruhku duduk.
"Saya tidak marah kepadamu, Irfan, tapi saya malah senang melihatmu
bisa datang disela-sela jam belajarmu." kata Arif yang menjabat sebagai
ketua kami, aku segera duduk dan bercekrama dengan teman-temanku, yang sudah
lama aku tak melihat mereka.
Aku mendengarkan paparan dan penjelasan dari kak Arif dengan cermat, aku
bisa menduga bahwa ini adalah kasus yang amat serius dan penting untuk
diselidiki. Rapat kami diakhiri dengan bersulang bersama sambil berucap agar
kasus kali ini bisa tuntas. Aku tak menduga tugasku sangat penting bagi
keberhasilan kasus ini, aku ditugaskan mencari bukti nyata tentang ada tidak
adanya makluk gaib disebuah rumah kosong yang tempatnya tak jauh dari kawasan
kota ku.
Tapi di sisi lain aku nampak agak tak senang, karena cuma aku seoranglah
yang ditugaskan untuk mencari bukti nyata itu. Tapi di sisi lain jiwaku seperti
mebara-bara, semangat datang di benakku. Aku selalu merasakan hal seperti ini
jika sedang mendapat tugas yang menyangkut dunia gaib. Aku kembali melangkahkan
kakiku untuk pulang. Terik matahari yang sudah berada diatas , membuat aku
kepanasan dan juga berkeringat. Tapi aku acuh saja dengan hal itu, aku tetap
terus berjalan. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara telakson mobil nyaring di
belakangku. Aku menoleh ke arah belakang untuk mencari tau siapa yang
mengendarainya.
Saat itu rasanya semua lemas di badanku bagai hilang lenyap, ternyata orang
yang berada di belakang stir adalah ayahku yang nampak sedang diperjalan
pulang. Aku masuk kemobil ayahku dan menjelaskan kenapa aku bisa berada di
daerah sini, ayahku hanya mangut-mangut saja lalu menyalakan mobilnya. Sesaat
aku merebahkan diriku dikorsi mobil, aku mencoba menerawang apakah yang akan
terjadi dengan penyelidikanku nanti malam.
Akhirnya malampun tiba begitu cepat, saat ini aku sudah bersiap-siap
berangkat menyelidiki rumah kosong itu dengan berbagai peralatan di tasku,
terutama kamera digital, handycam dan juga senter. Aku berpamitan kepada ayahku
yang tengah asyik mebaca majalah diruang tengah, ia mengizinkanku untuk keluar
malam ini. Tak ambil lama aku segera memanggil taksi dan berangkat ke alamat
yang kak Arif katakan. Pada saat mobil taksi yang aku naiki melewati kawasan
yang berdekatan dengan rumah itu, aku bisa melihat dengan jelas bahwa tempat
itu benar-benar sunyi senyap. Aku melihat pepohonan tinggi pada saat taksi
berhenti. Tempat ini memang menakutkan sekali, pantas saja kak Arif
menugaskanku saja. Pada saat taksi yang ku naiki tadi sudah lenyap dari
pandanganku, aku dengan senter ditanganku kembali berpaling menyusuri jalan
setampak yang lumayan banyak rumput liarnya. Aku berhenti sambil mengarahkan
senterku ke depan dimana nampak sebuah rumah yang menjulang tinggik nampak
suram. Beberapa kali aku menelan ludah, bulu romanku mulai berdiri, mataku
seketika menjadi waspada dengan kawasan sekitar situ, telingaku juga seketika
waspada akan bunyi-bunyi yang terus terdengar ditelingaku. Aku mulai bergegas
menyalakan handycamku dan mengarahkannya tepat didepan rumah yang nampak suram
itu.
"Inilah awal penyelidikanku tentang bukti nyata hal gaib, rumah kosong
ini." aku berkata sambil mengarahkan kamera handycamku ke wajahku sambil
berjalan terus. Aku kembali mengarahkan kamera handycamku ke depan rumah kosong
itu. Langkah demi langkah yang berat mengantakrkanku ke depan pintu masuk rumah
kosong itu. Dengan senter di tangan kananku, aku menerangi daun pintu itu
sambil tersenyum.
"Cuma pintu biasa, gampang." kataku sambil menggigit tali senterku
lalu ku keluarkan kawat kecil pembuka gembok. Ternyata dugaanku salah, pintu
itu susah sekali untuk dibuka. Tiba-tiba angin dingin menghembus dari
belakangku, aku bergidik sambil cepat-cepat mencoba mebuka pintu itu dengan
kawat kecilku tadi. Dengan seketika pintu yang nampak susah dibuka kini terbuka
membuatku terjatu kelantai, aku mencoba bangkit dengan topangan kakiku, aku
bersyukur karena handycamku tak apa-apa. Aku kembali melangkah dengan diterangi
sinar senterku, tapi tiba-tiba pintu tadi tertutup dengan sangat keras. Aku
berdiri kaku tidak jau dengan pintu masuk tadi, sepertinya darahku mulai
membeku dengan keadaan yang super gelap ini. Beberapa suara desahan aneh mulai
bermunculan di sekitarku, tiba-tiba jantungku berdetak begitu cepat, mataku
terus waspada dengan suara-suara aneh itu. Aku menyorotkan sinar senterku berkeliling
ruangan itu, nampaknya semua prabotan masih utuh di tempatnya masing-masing,
aku mendapati sederet lukisan wajah yang menyeramkan dengan sinar senterku.
"Ya Tuhan, tuntun langkahku." kataku memanjatkan sebuah do'a yang
langsung terucap di mulutku setelah melihat lukisan-lukisan menakutkan itu. Aku
terus melangkah ke depan dengan tangan yang memegang handycam siap untuk
menyeringai. Aku berhenti didepan sebuah tikungan yang memisahkan lorong
pertama tadi menjadi dua jalur gelap. Tiba-tiba mataku terpincing melihat
sebuah bayangan hitam berlari di depan sinar senterku.
"Iiihhh. Apa itu tadi." kataku sambil mencari-cari bayangan tadi
dengan sinar senterku. Tubuhku mulai berkeringat dingin yang menyebabkan
pikiranku bertanya-tanya tentang bayangan hitam yang barusan ku lihat dengan
mata kepalaku sendiri, senang bercapur ngeri menjadi satu di jiwaku. Aku senang
karena kamera handycamku tadi berhasil merekam penampakan aneh itu.
Tiba-tiba sebuah suara tangisan bayi memecah kesunyian di rumah kosong itu.
Sekarang hatiku benar-benar menciut dan darahku seakan sudah menjadi es beku,
kakiku dan otakku tak diajak bersahabat. Kakiku terus ingin bergegas untuk lari
tapi pikiranku tetap optimis untuk melanjutkan penyelidikanku ini, karena
tugasku lah yang paling penting. Suara tangisan bayi yang menyeramkan itu masih
menguasai ruangan-ruangan rumah itu, aku hanya bisa menyalakan alat perekamku
yang ku talikan di ikat pinggangku sambil terpaku dengan suara tangisan
mengerikan itu.
Akhirnya setelah aku berdiam mencoba menabakan diriku, suara itu lenyap di
semua ruangan rumah kosong ini, tapi tidak untuk dipikiranku. Aku terus
berpikir dari mana suara tangisan bayi yang mengerikan itu, berbagai metode dan
teoriku pasti bisa memecahkan kasus yang amat rumit tapi ini, ini adalah
kenyataan yang sangat mengerikan dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Aku kembali menabahkan hatiku dengan terus melanjutkan langkahku yang
terdengar terseret oleh telingaku. Aku berjalan pelan-pelan menyusuri lorong
gelap itu dengan sesekali melihat lukisan dikedua sisinya. Aku biasa melihat
lukisan dari satu pasangan suami istri sampai mendapatkan sebuah bayi dari
rahim sang istri, sepertinya inilah cerita keluarga yang dulunya menghuni rumah
ini. Tapi hatiku sesekali kembali menciut karena dari setiap lukisan yang ku
lihat, backgroundnya selalu menakutkan dan selalu membuatku kembali bergidik.
Tiba-tiba suara tangisan bayi yang mengerikan itu kembali menciutkan hatiku
dan membuat langkahku terhenti sejenak. Aku berdiri kaku sambil mencoba
mencermati asal suara tangisan bayi yang mengerikan itu. Ternyata setelah aku
cermati arah suara tangisan itu berada di ujung lorong yang sedang aku telusuri
ini. Jantungku terus serasa ingin meledak, aku mencoba untuk tabah dan kembali
melangkah kedepan yang terus diiringi tangisan itu. Setelah aku menyusurinya
dengan tabah akhirnya aku melihat sebuah pintu yang sudah usang, aku memegang
daun pintunya dan perlahan-lahan mebukanya.
Tiba-tiba mataku terpincing kaget, didalam ruangan itu aku melihat sebuah
peristiwa yang sulit di ucapkan dengan kata-kata. Sekarang aku benar-benar
berniat lari dari tempat itu tapi kakiku terasa berat sekali, lalu aku mencoba
berteriak sekencang-kencangnnya tapi entah kenapa tenggorokanku tak
mengeluarkan suara sama sekali. Aku mencoba tabah sejenak dan memperhatikan
ruangan itu. Dinding-dinding ruangan itu nampak baru dicat dan sangat mewah
interior-interiornya. Aku melihat peristiwa yang menciutkan hatiku dan membuat
aku bersalah jika telah lancang memasuki rumah ini. Dari awal membuka pintu
tadi aku bisa melihat seorang ibu yang sedang melahirkan bayinya, dia dibantu
seorang bidan yang wajahnya hanya nampak samar-samar dan satu sosok lagi yaitu
seorang pria yang nampak gagah. Aku bisa mengenali pria dan wanita itu, mereka
adalah sepasang suami istri yang dilukiskan dari dinding pintu depan hingga
ujung lorong tadi. Akhirnya wanita itu melahirkan seorang bayi tapi sang ibu
telah meninggal karena kehabisan tenaga, itulah yang sedang kulihat saat ini.
Aku menelan ludahku beberapa kali, keringat dingin bercucuran diwajahku tapi
aku tak bisa mengusapnya karena diriku seperti patung, hanya gerak mata saja
yang bisa aku lakukan.
Tiba-tiba semua yang ada didalam ruangan itu berubah menjadi kusam dan
bersawang. Aku kembali sadar dan bisa bergerak, tapi hatiku tetap menjerit
ketakutan walau mulutku belum juga bisa bersuara. Aku sadar semua yang aku
lihat tadi cuma peristiwa seranak keluarga yang mendiami rumah ini dulu. Dengan
tubuh bergetar aku mencoba berpaling perlahan untuk lari keluar dari rumah ini.
Pada saat aku berpaling tiba-tiba aku melihat sosok bayangan pria gagah tadi
dihadapanku sambil menggedong anaknya yang sudah tidak bayi lagi. Saat ini
jiwaku benar-benar menjerit keras, darahku kembali membeku, tanganku yang
kedua-duannya memegang benda serasa lemas dan bergetar dan perlahan-lahan
kuarahkan turun. Perasaanku sudah sangat ketakutan saat ini, tapi aku mencoba
tabah dengan memberanikan diri bertatapan dengan mereka.
Tiba-tiba pria gagah yang menggendong anaknya itu bergerak tanpa menampakan
kakinya dilanta.
"Jaaaaangan gaaaaanggu ketenangan keluargaku." kata bayangan pria
yang menggendong anaknya yang telah melewatiku, dan suara itu terasa menusuk
ditelingaku. Tiba-tiba aku berteriak sangat keras dan kali ini terdengar suara
dari tenggorokanku, detik selanjutnya aku sudah berlari kembali lorong pertama
tadi lalu tanganku yang gemetar sudah tak sabar lagi untuk membuka pintu dan
keluar dari tempat yang mengerikan itu. Detik selanjutnya aku keluar dengan
berlari pontang-panting sambil berteriak minta tolong.
"Tolooong, tolooong, tolooong aku." teriakku sambil terus berlari
menjauhi tempat mengerikan itu.
Beberapa hari kemudian aku sudah duduk bersama teman-temanku di rapat para
agen detektif kami. Aku memberikan map laporan yang sudah aku ketik dengan
rapi. Kak Arif mebacanya sambil tertawa terbahak-bahak, tapi wajahku tetap
terlihat serius. Semua orang yang mebacanya tertawa lepas, dengan cepat aku
membela diriku dengan mengeluarkan handycam dan alat rekamku. Aku menyalakan
rekaman handycamku lalu dilanjutkan rekaman suara tangisan bayi yang
mengerikan. Serentak semua orang yang menyaksikannya dan mendengarnya rekamanku
itu, bergidik dibuatnya dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
--TAMAT--
Bagaimana Ceritanya ? Nah , Bagi Sobat yang ingin mengirimkan karyanya dan ingin dipublikasikan di blog ini . silakan mengirimkan data+karyanya di Emailku aminstbd6@gmail.com :)
Terima Kasih



0 komentar:
Posting Komentar